• gambar
  • header

Selamat Datang di Website MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 2 KOTA BIMA. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 2 KOTA BIMA

NPSN : 50223278

Jl.Wolter Monginsidi No.02 Kota Bima


info@man2kotabima.sch.id

TLP : (0374) 42374


          

Prestasi Siswa


Lomba Menulis Puisi Nasional

Muhammad Iqbal meraih Juara 1 Lomba Menulis Puisi tingkat Nasional tahun 2021



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 63616
Pengunjung : 21426
Hari ini : 63
Hits hari ini : 126
Member Online : 0
IP : 3.239.50.33
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Sastra, Jalan Tengah Mengisi Kebangkitan Nasional Di Era Milenial




Sastra merupakan karya kreatif yang tidak langsung lahir tanpa sebab yang melatarbelakanginya. Bahkan, segala aspek kehidupan di dunia ini tidak pernah ada yang terjadi tanpa persitiwa sebelumnya. Dalam kaitan perubahan atau dinamika kelahiran karya sastra yang pasti memiliki berbagai sebab atau alasan kemunculan, mari menyimak pendapat beberapa ahli. Misal, Teeuw (1983:65) menyatakan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Kemunculan karya sastra dianggap sebagai respons atau tanggapan dari karya yang telah terbit sebelumnya sehingga banyak yang memandang bahwa pemaknaannya pun harus mempertimbangkan teks hipogram. Hubungan teks hipogram dengan transformasi dapat berupa penurunan, pengembangan, penyimpangan, pertentangan dan penolakan (Pradopo, 2007; Riffatere, 1978; Junus, 1985; Jauss, 1974, Culler, 1975; Suratno, 2019).

 

Kehadiran cerpen, puisi, novel, drama dan karya sastra lainnya pasti terdapat pengaruh dari teks sebelumnya. Adapun teks dengan makna sempit (sebagai teks tertulis) dan bermakna luas yakni kehidupan ini yang dipandang sebagai rujukan dalam penciptaan karya sastra oleh pengarang tertentu. Jadi, teks yang mendahului kelahiran karya sastra dapat berupa teks hipogram (misalnya, lahirnya Serat Centhini telah diawali oleh kelahiran Serat Jatiswara; lahirnya novel Centhini: Kekasih yang Tersembunyi (2015) didahului oleh adanya Serat Centhini (1883)).

 

Berbicara kekerasan, hal tersebut telah ada sejak awal manusia ada. Bahkan, kekerasan sering menjadi warna dominan kehidupan manusia, termasuk dalam dinamika sejarah bangsa Indonesia. Pergantian pemerintahan tradisional dan modern atau era kemerdekaan pun hampir selalu diwarnai kekerasan. Sebagai ilustrasi, pergantian pemerintahan Kerajaan Kediri ke Singasari; Singasari ke Majapahit; Majapahit ke Demak; Demak ke Kartasura; Orde Lama ke Orde Baru; dan Orde Baru ke Orde Reformasi selalu diwarnai kekerasan (kerusuhan, pertempuran, perusakan dan sebagainya). Bahkan, kekerasan dewasa ini selalu muncul silih berganti dan tidak pernah berhenti, dengan motif yang sama namun tampilannya berbeda. Kekerasan pun terjadi di berbagai sektor, pendidikan, politik, sosial, ekonomi, budaya, agama termasuk kekerasan dalam karya sastra.

 

Adapun kekerasan dalam karya sastra tidak muncul dengan sendirinya. Hal itu biasanya terjadi pada karya sastra yang ditulis oleh pengarang atau penulis pemula.

 

Mengapa demikian? Sebab, penulis pemula cenderung belajar dan mengambil bahan tulisan dari kehidupan riil daripada meneladani karya sastra yang telah ada sebelumnya. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun demikian perlu adanya pelurusan kreativitas agar kekerasan tidak menjadi hal dominan dalam penciptaan karya sastra. Jika pun terpaksa harus mengambil sisi kekerasan, hendaknya dilakukan secara kreatif sehingga tidak terkesan mengatakan rasa biadab, kejam, sadis, atau keras di luar batas kewajaran (kemanusiaan).

 

Namun demikian, kekerasan hanya satu sisi negatif dari karya sastra penulis pemula. Hal itu dapat dilihat dalam karya awal (sebelum diedit ole pembaca dan editor senior) dalam beberapa ajang penulisan karya sastra, khususnya jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa. Selain kekerasan fisik, pengarang atau penulis pemula juga cenderung menampilkan perilaku intoleransi dalam karyanya. Oleh sebab itu, pengarang atau penulis pemula menjadi sasaran utama dalam pemberian bekal wawasan yang memadai terkait karya sastra, toleransi dan prinsip kebangsaan sehingga tidak terjebak pada penyusunan karya yang mengandung (bahkan menonjolkan) kekerasan dan intoleransi.

 

Karya sastra era milenial (atau era 5.0) perlu diarahkan untuk mencerdaskan pembaca dalam memasuki dan menjalani kehidupan kebangsaan pada masa kini dan masa depan. Sehubungan dengan itu, generasi saat ini harus diarahkan untuk berpikir dan bertindak ke masa depan melalui bahan bacaan yang mendorong lahirnya generasi milenial yang cerdas, kreatif, kritis sekaligus mampu mengikuti perubahan zaman yang berjalan sangat cepat dan penuh tantangan.

 

Bahan bacaan sastra tidak bisa hanya menyampaikan persoalan linear atau yang sudah lazim terjadi. Bacaan sastra tidak boleh lagi hanya mengambil tema yang begitu-begitu saja sejak dahulu hingga sekarang. Persoalan dan tantangan hidup yang semakin berubah menuntut berbagai tema karya sastra juga untuk ikut berubah. Generasi masa kini sudah tidak relevan lagi disuguhkan tema karya yang semisal memuat kisah orang yang tabah dalam kehidupan miskin dan tertindas. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah bacaan yang menampilkan seseorang yang miskin (jika dimaksudkan sebagai edukasi), tetapi mampu mencapai derajat kehidupan (ilmu pengetahuan, ekonomi dan sosial) yang memadai. Sederhananya, dibutuhkan bacaan yang dapat menjadi motivasi dan penggali potensi menuju kehidupan yang lebih baik, termasuk contoh tersebut sebagai bahan bacaan dalam pengentasan kemiskinan.

 

Selain itu, teks sastra dewasa ini hendaknya bukan teks sastra yang hanya mengedepankan seseorang yang melankolis, mudah putus asa, pembenci dan pendendam, dan mudah tersulut emosionalnya. Sebaliknya, teks sastra harus mengajarkan kepada pembaca agar berorientasi terhadap sosok manusia pembangunan yang kuat dan ulet dalam bekerja, tahan uji, kasih sayang dan memiliki jiwa equilibrium atau harmoni, pemaaf dan sabar. Cara berpikir positif seperti itulah yang menjadi bekal bagi masyarakat Indonesia yang beragam, khususnya dalam memaknai kebangkitan nasional dari masa ke masa.

 

Berbicara fakta, pada akhir-akhir ini semua pihak tersentak dengan hadirnya wacana kekerasan dalam kehidupan berbangsa. Hampir dalam berbagai ranah kehidupan terjadi kekerasan atau intoleransi. Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan terjadi secara terus-menerus. Sebab, kekerasan dan antitoleransi tersebut tidak memiliki sumbangsih positif bagi pembangunan bangsa. Justru sebaliknya, kekerasan dan anti-harmoni menjadi daya dorong negatif dalam membangun kebersamaan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Generasi muda harus dijauhkan dari propaganda anti toleransi. Akan tetapi, generasi masa kini juga harus memahami batas-batas toleransi. Dalam kaitan itu, anjuran toleransi dalam kehidupan beragama saat ini cenderung kebablasan. Padahal, toleransi tidak harus sampai pada meleburkan akidah agama yang dianutnya hanya untuk dikatakan sebagai orang yang toleran. Toleransi juga sangat tidak berhubungan dengan pembenturan nilai-nilai kebangsaan yang ada dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Hal yang terpenting adalah sikap saling memahami, memaklumi, melengkapi dan menghargai.

 

Dalam hal ini, guna mewujudkan sikap toleransi kebangsaan, khususnya dalam memaknai kebangkitan nasional, pengarang atau penulis karya sastra perlu memiliki pandangan untuk membangun harmoni dan kebersamaan. Orientasi pada berpikir positif yang mengarah terhadap hasil kerja perlu ditekankan kepada generasi masa kini. Berpikir positif akan mendorong seseorang tidak mengeluh dan menyerah.

 

Kita dapat belajar dari prinsip hidup pollynna yang mendorong lahirnya teori pollynna terkait dengan sikap hidup. Prinsip pollynna dapat dilakukan pada kajian sastra untuk mengarahkan pembaca mengikuti cara pandang positif dalam kehidupannya. Adapun dalam menganalisis teks sastra untuk mendeskripsikan sikap positif seseorang dapat memanfaatkan pendekatan pollynna terkait dengan pemakaian bahasa dalam relasi interpersonal. Selanjutnya, menurut Leech (1983), prinsip relasi dalam komunikasi interpersonal terdiri atas enam prinsip. Keenam prinsip tersebut adalah (a) kerja sama, (b) sopan santun, (c) ironi, (d) kelakar atau humor, (e) daya tarik, dan (f) pollynna.

 

Prinsip pollynna berasal dari sikap gadis kecil dalam sebuah novel karya H. Porter (1913) berjudul Pollynna. Gadis kecil itu selalu memandang setiap peristiwa secara positif (positive thinking). Secara garis besar, prinsip berpikir positif dalam relasi interpersonal meliputi (1) seseorang cenderung menyetujui pernyataan positif mengenai diri mereka sendiri, (2) seseorang lebih suka memandang hidup secara positif daripada negatif, (3) seseorang cenderung berpikir optimis dalam memandang kehidupan, (4) seseorang selalu mencari kebaikan atau bersikap baik dalam menghadapi peristiwa kehidupan dalam kondisi apapun, (5) seseorang melihat sesuatu yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, dan (6) seseorang cenderung menyembunyikan hal negatif dengan memakai penyangkalan (Atmawati, 2011:56– 57; Suratno, 2016).

 

Dalam kaitannya dengan kepenulisan karya sastra, pengarang atau penulis dapat memanfaatkan karya sastra lama (baik teks maupun lisan) dalam melahirkan karya yang mengedepankan berpikir positif. Terutama dalam memaknai nilai-nilai kebangkitan nasional dengan sasaran utama generasi muda yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Sebab bagaimanapun, dunia pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam perwujudan dan pembentukan generasi bangsa yang baik, positif dan berjiwa kebangsaan. Melalui berbagai program dan kegiatan kependidikan, generasi muda (pelajar dan mahasiswa) ditempa untuk menjadi warga bangsa yang terus bangkit, bersatu dan maju, termasuk melalui bahan bacaan literasi karya sastra, baik berupa cetak maupun elektronik (digital).

 

Dalam konteks keberagaman multikultural dalam khazanah Indonesia, semua orang hendaknya mengedepankan perilaku yang positif kepada pihak lain. Idealnya, semua pihak berupaya menjaga kedewasaan berpikir, bertutur dan berperilaku. Khususnya dalam media sosial di era sekarang, hendaknya ucapan dan tindakan verbal tetap mengandung nilai positif. Jangan sampai kita terjebak dalam ujaran kebencian (hate speech), tindakan kebencian (hate action) dan kejahatan kebencian (hate crime), termasuk perilaku kebencian, diskriminatif dan intoleransi yang sempit.

 

Dalam pada itu, sejenak kita menyinggung sedikit keberadaan ungkapan lokal dalam berbagai suku bangsa di Indonesia yang juga dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda di dunia pendidikan. Semua bermuara dengan harapan bahwa seseorang yang berkarakter dan berbudaya luhur akan dapat menjadi alat, media dan wadah dalam mencerdaskan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan ungkapan tradisional Jawa, berbudi bawa laksana yang bermakna berperilaku sesuai dengan ucapannya. Tidak jauh berbeda dengan ungkapan terkenal Bima, Nggahi Rawi Pahu yang bermakna bahwa setiap ucapan harus sesuai dengan tindakan yang dilakukan dengan tetap memegang prinsip Maja Labo Dahu atau yang bermakna prinsip malu dan takut harus terus dipelihara, khususnya malu dan takut untuk berbuat yang tercela.

 

Lebih jauh, dalam rangka membangung komunikasi sosial, hampir semua suku bangsa memiliki ungkapan yang mendorong masyarakat menyadari pentingnya perilaku sosial yang mengarah terhadap karakter sosial-gotong royong atau kebersamaan serta toleransi. Dalam bahasa Bali dikenal ada kutang apang ada duduk, ada pejang apang ada jemak yang bermakna ada yang dibuang agar ada yang dipungut, ada yang ditaruh agar ada yang diambil, yaitu seseorang yang suka atau gemar berbuat kebaikan maka ia akan diberikan kebaikan pula jika suatu saat mengalami kesulitan atau kemalangan.

 

Sementara itu, dalam budaya Banjar dikenal badiri sadang, baduduk sadang, yang dimaknai bahwa saat berdiri cocok, saat duduk pun cocok, yaitu seseorang yang pandai menyesuaikan dirinya dengan segala situasi sehingga dapat beradaptasi dan tidak kesulitan dalam menjalani perannya di masyarakat. Kemudian, dalam masyarakat Gorontalo dikenal mopotuwasu kalibi, wawu pi’ili, yaitu menyatukan hati, perkataan dan perbuatan sehingga tumbuh kebulatan tekad dalam membangun kehidupan sosial yang harmoni (Suratno, 2016).

 

Secara umum, semua ungkapan lokal tersebut merupakan media pembentukan budaya yang mendorong hidup harmoni secara berdampingan dalam keberagaman (bahasa, adat, budaya, mata pencaharian, ras, ekonomi, profesi, agama dan sebagainya). Oleh sebab itu, ketika dalam suatu komunitas yang luas dan terdiri dari berbagai latar belakang, maka dengan prinsip harmoni dan rasa kesatuan yang tinggi akan dapat terwujud kehidupan yang damai, rukun dan kompak. Kearifan local berbagai suku dan daerah di Indonesia tersebut pun dapat ditransformasikan sebagai bahan ajar dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan segala cita dan harapan kebangkitan nasional di masa kini dan masa yang akan datang.

 

Adapun dewasa ini, seluruh lapisan masyarakat harus menjauhkan ucapan, perilaku, dan tindakan yang kasar atau memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dibutuhkan partisipasi semua pihak. Sebab, akan tidak mungkin negara besar ini hanya ditopang oleh satu atau beberapa elemen saja.

 

Masyarakat harus dibiasakan untuk tidak hanya mengandalkan diksi aku, tetapi kita. Bahasa dan karya yang dihasilkan tidak berorientasi menuju kemarahan, melainkan mewujud sebagai keramahan. Masyarakat berada dalam nuansa kebangkitan nasional bersama yang diejawantahkan sebagai semangat sosial, bukan malah berkutat dalam konsep individual. Semua pihak harus terus menghidupkan gairah negosiasi dan bukan mengembangkan narasi yang bernilai negasi. Pun konsep kebangkitan nasional di dunia pendidikan harus terus menebar sikap apresiatif, bukan provokatif. Pada gilirannya, bangsa kita dapat bangkit dan terbang lebih tinggi serta terhindar dari kekerasan di semua bidang kehidupan, baik pendidikan, politik, ekonomi, sosial budaya, olahraga, hingga pertahanan dan keamanan.

 

(Penulis: Rozali Jauhari Alfanani, M.Pd, Guru Bahasa Indonesia)




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas