• gambar
  • header

Selamat Datang di Website MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 2 KOTA BIMA. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 2 KOTA BIMA

NPSN : 50223278

Jl.Wolter Monginsidi No.02 Kota Bima


info@man2kotabima.sch.id

TLP : (0374) 42374


          

Prestasi Siswa


Lomba Menulis Puisi Nasional

Muhammad Iqbal meraih Juara 1 Lomba Menulis Puisi tingkat Nasional tahun 2021



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 72610
Pengunjung : 25335
Hari ini : 92
Hits hari ini : 250
Member Online : 0
IP : 3.92.28.52
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Catatan Kepala MAN 2 Kota Bima Untuk Para Guru di Madrasah (Bagian 2)




Simak catatan Kepala MAN 2 Kota Bima, Muslihah, S.Pd untuk Para Guru/Pengajar/Pendidik di Madrasah di mana pun berada.

 

Catatan ke 2

Guru harus mengalami transformasi diri menjadi Guru Sejati.

 

Jika seorang guru ingin mencapai jati diri yang gemilang, maka menurut Andreas Harefa (2001) sosok guru di tengah perubahan sosial harus mampu mengalami transformasi diri menjadi guru sejati, menimbang sosok manusia guru yang sejati di dalam perubahan masyarakat perlu diperhatikan beberapa hal, yakni:

 

1. Guru seyogyanya melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, dan organisasi primordialnya untuk mengabdi dalam kancah memperjuangkan kepentingan sebuah negara, kebangsaan dan kemanusiaan universal. Konsistensi guru dalam menembus batas-batas ikatan kelompok, membuat mereka tidak dapat lagi di-klaim sepenuhnya sebagai bagian atau milik dari organisasi atau kelompok tertentu. Guru adalah milik bersama atau milik semua manusia.

 

2. Meski ada kalanya sangat sulit untuk dihindarkan, tetapi perjuangan guru harus dilandasi oleh semangat anti-kekerasan (non violence action), karena mereka amat mencintai perdamaian.

 

3. Guru secara konsisten melandaskan sikap hidup dan perbuatannya pada keyakinan nurani (faith conscience) dan bukan hanya pada ilmu pengetahuan (ratio) maupun kerja keras (will power), karena itu mereka mendemonstrasikan moral secara amat menyakinkan, meski tak selalu sempurna, dan rela mengorbankan dirinya untuk mempertahankan hal tersebut.

 

4. Karena sikap hidup dan perbuatan mereka selalu diarahkan dari dalam, maka tiga hal dasar yang selalu menjadi fokus perhatian guru adalah kebenaran, keadilan, dan rasa cinta dalam  arti luas kepada sesama terutama anak didiknya.

 

5. Pusat perhatian guru bukan hanya menciptakan suatu Negara Kebangsaan (identitas politik), tetapi lebih dari itu, menciptakan suatu komunitas masyarakat manusia yang memperlakukan dan diperlakukan secara manusiawi.

 

6. Dalam setiap perjuangannya, guru sejati tidak menganggap kedudukan, harta, kekuasaan sebagai tujuan akhir. Tetapi lebih menganggap semua itu sebagai sarana untuk maksud yang lebih mulia dan luhur. 

 

7. Perjuangan guru secara langsung maupun tidak langsung, selalu melahirkan dan menumbuhkembangkan pengharapan masyarakat tentang kemungkinan terciptanya masyarakat manusia yang lebih manusiawi di masa depan.   

         

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas